Ramadhan seharusnya menjadi momentum bagi kita untuk melatih menahan diri, namun ironinya, pengeluaran seringkali justru melonjak tajam dibandingkan bulan-bulan biasanya. Salah satu pemicu utamanya adalah budaya “Bukber” (Buka Bersama) tanpa filter. Seringkali, rasa sungkan membuat kita mengiyakan semua undangan reuni atau kumpul teman tanpa mempertimbangkan sisa anggaran yang ada. Jika tidak selektif, biaya makan di luar yang bertubi-tubi ini bisa menguras tabungan dengan sangat cepat sebelum hari raya tiba.
Selain faktor sosial, tantangan terbesar datang dari diri sendiri, yaitu fenomena “Lapar Mata”. Saat perut kosong menjelang waktu Maghrib, psikologi kita cenderung merasa semua jenis makanan dan takjil terlihat sangat menggiurkan dan wajib dibeli. Akibatnya, kita sering berlebihan dalam membeli makanan yang ujung-ujungnya tidak habis termakan. Mengendalikan nafsu belanja saat sedang lapar adalah kunci agar pengeluaran harian tetap terkendali dan tidak terbuang mubazir.
Masalah keuangan yang tak kalah krusial adalah kegagalan dalam mengelola alokasi THR (Tunjangan Hari Raya). Banyak orang yang menganggap THR sebagai “uang kaget” yang harus segera dihabiskan untuk kebutuhan konsumtif, seperti membeli baju baru bermerek atau mengirim hantaran mewah demi gengsi. Padahal, tanpa strategi yang matang, dana tersebut akan menguap begitu saja tanpa menyisakan sedikit pun untuk pos penting lainnya, seperti dana darurat atau investasi jangka panjang.
Agar kemenangan di hari Idul Fitri tidak dibarengi dengan dompet yang kering, penting bagi kita untuk mulai menyisihkan dana sebelum berbelanja. Prioritaskan kewajiban seperti zakat dan tabungan di awal, baru kemudian atur sisa anggaran untuk kebutuhan lebaran. Dengan disiplin dalam menyaring ajakan bukber, menahan diri dari lapar mata, dan bijak mengelola THR, kita bisa merayakan hari kemenangan dengan hati yang tenang dan kondisi finansial yang tetap stabil.
Referensi dari berbagai sumber diolah Tim Media GAS.
Kunjungi IG dan FB kami giri_arta_syariah