Apakah ‘Hidup Sederhana’ Itu Cuma Privilese ?

Konsep “hidup sederhana” sering kali disajikan sebagai sebuah pilihan moral atau filosofi hidup yang mulia, di mana seseorang secara sadar memilih untuk mengurangi konsumsi, memprioritaskan pengalaman daripada materi, dan hidup hemat. Namun, bagi sebagian orang, hidup sederhana bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan. Mereka yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar-seperti makanan, tempat tinggal, dan kesehatan tidak sedang “hidup sederhana” atas kemauan sendiri. Mereka hanya mencoba bertahan hidup. Dalam konteks ini, istilah “hidup sederhana” menjadi ironis, karena ia menyembunyikan realitas perjuangan ekonomi yang pahit.

Bagi kelas menengah ke atas, “hidup sederhana” bisa jadi adalah sebuah privilese. Mereka memiliki jaring pengaman finansial yang memungkinkan mereka untuk “meninggalkan” kemewahan. Keputusan untuk tidak membeli barang-barang mahal, misalnya, adalah pilihan yang bisa mereka buat karena mereka sudah memiliki dasar-dasar yang kuat. Mereka bisa berinvestasi di masa depan atau menabung untuk pensiun, sementara yang lain berjuang untuk mendapatkan upah harian. Privilese ini sering kali tidak disadari. Mereka yang mampu memilih untuk hidup “sederhana” sering kali menerima pujian, sementara yang hidup dalam keterbatasan karena terpaksa malah tidak memiliki suara.

Lalu, bagaimana kita harus melihat konsep ini? Mungkin kita harus berhenti mengagungkan “hidup sederhana” sebagai sebuah tindakan heroik dan mulai melihatnya sebagai apa adanya sebuah spektrum yang sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial dan ekonomi. Mengajak orang untuk “hidup sederhana” tanpa mengakui adanya kesenjangan ekonomi adalah hal yang tidak realistis. Alih-alih mengukur moralitas seseorang dari seberapa banyak yang mereka konsumsi, mungkin kita harus berfokus pada seberapa besar kita bisa menciptakan sistem yang adil sehingga “hidup sederhana” dapat menjadi pilihan yang benar-benar bisa diakses oleh semua orang, bukan hanya bagi mereka yang sudah beruntung.

Renungan ini bukan untuk meremehkan pilihan hidup hemat, tetapi untuk mengajak kita semua berpikir lebih dalam tentang siapa yang benar-benar bisa membuat pilihan tersebut. Hidup sederhana mungkin indah sebagai sebuah ideal, tetapi kita harus jujur pada diri sendiri. Apakah kita merayakan pilihan yang bijaksana, atau tanpa sadar, kita hanya merayakan kemewahan untuk bisa memilih.

Referensi dari berbagai sumber diolah Tim Media GAS.

Kunjungi IG dan FB kami giri_arta_syariah

Tentang Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may also like these