Ketenangan hati adalah dambaan setiap insan, sebuah kondisi psikologis yang sulit didapatkan di tengah hiruk pikuk kehidupan modern. Namun, Islam menawarkan sebuah kunci fundamental untuk mencapainya, yang bukan berasal dari kekayaan materi atau status sosial, melainkan dari kedalaman spiritual. Kunci ini ditegaskan secara eksplisit dalam Al-Qur’an sebagai pedoman abadi bagi umat Muslim.
Inti dari ketenangan hati ini termaktub dalam QS Ar-Ra’d ayat 28, yang berbunyi: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa hubungan antara keimanan (iman) dan ketenangan (tentram) sangat erat. Ketenangan sejati bukan hasil dari usaha manusia semata, melainkan karunia yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang senantiasa berdzikir dan beribadah.
Penerapan ajaran ini dalam kehidupan sehari-hari berarti menjadikan mengingat Allah (dzikrullah) sebagai prioritas utama. Mengingat Allah tidak hanya terbatas pada ucapan lisan seperti tasbih, tahmid, atau takbir, tetapi juga mencakup menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, termasuk shalat, puasa, dan membaca Al-Qur’an. Ini adalah ‘investasi’ spiritual yang menjamin batin tetap stabil dan damai, terlepas dari tantangan duniawi yang datang dan pergi.
Oleh karena itu, bagi siapa pun yang mencari kedamaian yang abadi dan hakiki, jalan yang ditawarkan agama adalah yang paling pasti. Ayat ini berfungsi sebagai pengingat yang kuat bahwa meskipun dunia dipenuhi dengan kekhawatiran dan ketidakpastian, sumber ketenangan sejati terletak pada koneksi yang kuat dengan Sang Pencipta. Singkatnya, untuk hati yang tenteram, Allah adalah jawabannya.
Referensi dari berbagai sumber diolah Tim Media GAS.
Kunjungi IG dan FB kami giri_arta_syariah