Hadis qudsi yang berbunyi “خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُمْ لِلنَّاسِ” (Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain) yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, ath-Thabrani, dan ad-Daruqutni menjadi pedoman hidup yang sangat indah. Hadis ini mengajarkan kita bahwa nilai seorang manusia tidak hanya diukur dari harta atau jabatan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang ia berikan kepada orang lain.
Manusia yang bermanfaat adalah mereka yang selalu berusaha untuk memberikan kebaikan kepada sesama. Baik itu dalam bentuk bantuan materi, dukungan moral, atau berbagi ilmu pengetahuan. Dengan memberikan manfaat, kita tidak hanya membuat orang lain bahagia, tetapi juga mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang melapangkan kesulitan seorang mukmin, niscaya Allah akan melapangkan kesulitannya di dunia dan akhirat.”
Untuk menjadi manusia yang bermanfaat, kita perlu memiliki sikap peduli terhadap lingkungan sekitar. Kita bisa mulai dari hal-hal kecil seperti tersenyum kepada orang lain, menyapa tetangga, atau membantu teman yang sedang kesulitan. Selain itu, kita juga perlu mengembangkan potensi diri agar bisa memberikan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali dihadapkan pada berbagai pilihan. Pilihan untuk bersikap egois atau altruistik, pilihan untuk membantu atau mengabaikan, dan pilihan untuk memberi atau menerima. Hadis di atas mengajak kita untuk selalu memilih jalan kebaikan dan bermanfaat bagi sesama. Dengan demikian, kita tidak hanya akan mendapatkan pahala di akhirat, tetapi juga akan hidup lebih bahagia dan bermanfaat di dunia.
Kunjungi IG dan FB kami giri_arta_syariah